Selasa, 27 Desember 2011

TULISAN ISD

PELAPISAN SOSIAL & KESAMAAN DERAJAT
“Stratifikasi Sosial”
          Stratifikasi berasal dari bahasa Latin stratum (tunggal) atau strata (jamak) yang berarti tingkatan dan socius yang berarti teman. Dalam sosiaologi stratifikasi sosial dimengerti sebagai pembedaan atau pengelompokan penduduk atau masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial secara bertingkat (hierarkis).
          Ada tiga hal yang perlu ditekankan berkaitan dengan stratifikasi sosial, yaitu:
1.           Stratifikasi sosial merupakan suatu pola budaya yang secara sosial diterima, di mana masing-masing anggota masyarakat ditetapkan dalam posisi dan status tertentu.
2.           Stratifikasi sosial sering dikenakan pada para anggota masyarakat melalui tradisi, tanpa kemauan atau kesadaran berdasarkan pengetahuan mereka.
3.           Stratifikasi sosial melibatkan suatu sistem hak yang berbeda. Artinya ketidaksamaan distribusi hak, barang, kekuasaan, dan sebagainya di antara para anggota masyarakat.
Secara umum dikenal ada tiga kelas sosial dalam stratifikasi sosial, yaitu:
1.           Kelas sosial atas (upper class), biasanya terdiri atas para bangsawan, pejabat atau pengusaha, dan pengusaha kaya.
2.           Kelas sosial menengah (middle class), terdiri atas kaum intelektual seperti dosen, dokter, penelitian, pengusaha kecil, dan menengah, pegawai negeri, konsultan, dan sebagainya.
3.           Kelas sosial bawah (lower class), terdiri atas buruh, petani kecil, dan petani penggarap, pedagang kecil, dan sebagainya.
Berdasarkan sifatnya,  stratifikasi sosial atau pelapisan sosial terbagi menjadi tiga, yaitu:
1.           Stratifikasi sosial tertutup, contohnya:
a.  Kasta pada agama Hindu di India
b.  Masyarakat feodal
c.  Masyarakat apartheid (politik rasial)
2.           Stratifikasi sosial terbuka
3.           Stratifikasi sosial campuran
Dalam kenyataannya, stratifikasi sosial mempunyai beberapa fungsi tertentu, antara lain:
1.           Stratifikasi sosial merupakan alat bagi masyarakat dalam mencapai beberapa tugas utama, dengan jalan mendistribusikan prestise atau hak-hak dalam jumlah yang berbeda bagi setiap strata yang ada.
2.           Stratifikasi sosial menyusun, mengatur, dan mengawasi saling hubungan di antara anggota masyarakat. Ketidaksamaan kesempatan dalam menggunakan fasilitas yang ada cenderung memberikan keuntungan bagi mereka dari strata yang lebih tinggi dan sering kali merekalah yang mengatur partisipasi masing-masing strata dalam masyarakat secara keseluruhan. Stratifikasi sosial juga berfungsi untuk mengatur partisipasinya di tempat-tempat tertentu dari kehidupan sosial bersama.
3.           Stratifikasi sosial merupakan fungsi pemersatu dengan mengkoordinasikan unit-unit yang ada dalam struktur sosial.
4.           Stratifikasi sosial mengkategorikan manusia dalam strata yang berbeda, sehingga memudahkan manusia dalam berhubungan di antara mereka.

TULISAN ISD

MASYARAKAT PERKOTAAN  & MASYARAKAT  PEDESAAN
“Urbanisasi”
          Modernisasi dan globalisasi melahirkan kembali industrialisasi dalam bentuk yang lebih maju dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Lihat saja banyaknya perusahaan di Indonesia mulai dari perusahaan air minum, sampah, dan parkir hingga perusahaan mobil dan pesawat. Perusahaan-perusahaan ini tentu memerlukan tenaga kerja yang cukup. Muncullah urbanisasi. Urbanisasi adalah proses perpindahan penduduk dari desa ke kota atau dari pekerjaan pertanian di desa ke pekerjaan indutri di kota.
         A. Faktor Penarik Terjadinya Urbanisasi
1.   Kehidupan kota yang lebih modern
2.   Sarana dan prasarana kota lebih lengkap
3.   Banyak lapangan pekerjaan di kota
4.   Pendidikan sekolah dan perguruan tinggi lebih baik dan berkualitas
B. Faktor Pendorong Terjadinya Urbanisasi
1.   Lahan pertanian semakin sempit
2.   Merasa tidak cocok dengan budaya tempat asalnya
3.   Menganggur karena tidak banyak lapangan pekerjaan di desa
4.   Terbatasnya sarana dan prasarana di desa
5.   Diusir dari desa asal
6.   Memiliki impian kuat menjadi orang kaya
C. Keuntungan Urbanisasi
1.   Memoderenisasikan warga desa
2.   Menambah pengetahuan warga desa
3.   Menjalin kerja sama yang baik antarwarga suatu daerah
4.   Mengimbangi masyarakat kota dengan masyarakat desa
D. Akibat urabnisasi
1.   Terbentuknya suburb tempat-tempat pemukiman baru dipinggiran kota
2.   Makin meningkatnya tuna karya (orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap)
3.   Masalah perumahan yg sempit dan tidak memenuhi persyaratan kesehatan
4.   Lingkungan hidup tidak sehat, timbulkan kerawanan sosial dan kriminal
Beberapa penyebab terjadinya urbanisasi adalah adanya daya tarik tertentu di kota seperti:
1. Daya tarik ekonomi. Di kota, orang berharap untuk dapat mudah mendapatkan pekerjaan. Hal ini menjadi suatu keharusan untuk mengubah nasib.
2. Daya tarik sosial. Kebanyakan orang pergi ke kota untuk mengubah status sosial melalui berbagai macam cara, seperti pendidikan atau pekerjaan. Misalnya, orang yang tadinya berprofesi sebagai petani pindah ke kota menjadi pegawai negeri atau karyawan swasta.
3. Daya tarik pendidikan. Di kota tersedia berbagai fasilitas pendidikan. Bagi orang desa yang ingin menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi, mereka akan berupaya menyekolahkannya di kota dengan harapan setelah berhasil menempuh pindidikan yang lebih tinggi, ia mendapatkan pekerjaan yang sesuai di kota dan secara otomatis ia dapat menaikkan status sosial keluarganya.
4. Daya tarik budaya. Di kota terdapat berbagai pusat hiburan yang menyenangkan. Selain itu, kehidupan kota sering pula ditafsirkan sebagai kehidupan yang serba modern sehingga berpengaruh pada perubahan pola tingkah laku masyarakat. Untuk itu, orang desa berupaya untuk dapat mengikuti pola perilaku di kota, antara lain pindah ke kota. Bagi mereka, pulang dari perantauan dengan berbagai keberhasilan seolah-olah tidak modern jika tidak mengikuti pola kehidupan kota yang penuh glamor.

Senin, 19 Desember 2011

TULISAN ISD

AGAMA dan MASYARAKAT
“Faktor Keragaman Agama”
          Setidaknya ada lima agama besar yang berkembang di Indonesia. Kecuali itu, masih banyak aliran kepercayaan. Hubungan dan interaksi antar penganut agama yang berbeda juga bisa menimbulkan potensi konflik. Namun ada perbedaannya, yaitu:
1.   Hubungan antar umat beragama tidak hanya terjadi di kota-kota, di daerah transmigrasi atau di lokasi industri, tetapi terjadi sampai pedesaan; dan
2.   Hubungan antar umat beragama bisa bersifat ekstrem dan dijiwai oleh emosi yang tidak rasional
Tiap agama mempunyai kecenderungan untuk menyebarkan agama atau kepercayaannya. Karena ada banyak agama atau kepercayaan, semangat penyebaran agama bisa bergesekan. Penyebaran agama yang berlebihan bisa meresahkan penganut agama lain. Hubungan antar umat beragama juga bisa meruncing. Bila tidak terkendali dapat menimbulkan horizontal antar penganut agama/kepercayaan.
Berkaitan dengan umat beragama, bukan hanya hubungan antar penganut agama yang berbeda saja yang sering menjadi masalah sosial. Antarsesama penganut agama tertentu juga sering timbul konflik. Dalam suatu agama biasanya masih terdapat pengelompokan-pengelompokan. Hubungan antarkelompok dalam satu agama tersebut sering kali tidak harmonis.
Di beberapa tempat di Indonesia, terutama di Jawa masih ada perbedaan antara dua macam penganut agama islam yang berpotensi konflik. Penganut Islam di Jawa dibedakan menjadi penganut Islam secara ketat seperti tercantum dalam syari’at dan penganut agama Islam insentrik, yaitu agama Islam yang bercampur unsur-unsur agama Hindu dan Budha. Masyarakat jawa sendiri menyebut penganut Islam yang taat menjalankan sebagai kaum santri. Sebaliknya, pihak santri menyebut orang Jawa yang mengaku beragama Islam, tetapi tidak patuh menjalankan agama atau memadukan praktik ibadahnya dengan ajaran agama Hindu atau Budha sebagai pemeluk agama Islam Jawa atau agama Kejawen atau “abangan”. Karena itu, Clifford Geertz mengklasifikasikan orang Jawa dala tiga kelompok, yaitu priyayi, santri, dan abangan.
Dari semua masalah yang timbul karena adanya keragaman agama adalah konflik antar penganut agama yang berbeda. Masalah agama merupakan masalah sensitif. Beberapa tahun terakhir di tanah air kita terjadi konflik atau kerusuhan yang salah satu sumbernya adalah isu agama , misalnya di Maluku dan Poso. Memang harus dikupas apa penyebab sebenarnya. Karena bisa saja isu agama digunakan untuk mengadu domba sesama warga demp kepentingan kelompok tertentu. Sebab itu, kita harus hati-hati dan kritis menggapai berbagai desas-desus. Jangan sampai kita berperang melawan sesama bangsa sendiri yang berbeda agama karena termakan provokasi yang tidak bertanggung jawab.